MASIH TENTANG CERITA PENDEK


"Hari ini materi utamanya tentang cerita pendek. Secara teori cerpen dibuat dengan cara menentukan konsep dan tema, merumuskan konflik, menentukan alur serta memperkuat penokohan dan settingnya. Namun ia bebas dituliskan dari pintu manapun. Tapi yang pasti, konsep atau tema yang jelas adalah hal yang paling mutlak dalam sebuah cerita karena ia mengandung pesan yang hendak disampaikan pada pembaca."

Begitu tulis Pak Fuad Ramadhan dalam status facebooknya yang panjang. Tulisan itu ia beri judul "Tentang menulis cerpen."

Dalam tulisan itu Pak Fuad sedikit banyak menuturkan tentang semacam motifnya dalam menulis. Tapi itu tidak terlalu penting. Persoalan yang disampaikan Pak Fuad selajutnya saya rasa lebih penting. Pak Fuad mengurai perbedaan tentang Masturbasi atau Onani dengan menulis.

Jangan tergesa berpikir jorok. Ah, lebih baik silahkan baca sendiri tulisan Pak Fuad. Kalau tertarik silahkan berteman dan saling berbagi pemikiran. Saya akan bercerita saja. Masih mengenai menulis cerpen.

Saya pribadi sampai saat ini masih seringkali mengalami kesulitan untuk menulis cerpen. Kesulitan saya biasanya berhenti pada tahap pembangunan peristiwa.

Sebuah cerita bisa diilhami oleh apa saja. Bisa sebuah peristiwa yang memantik, pertanyaan yang menggelitik atau petuah-nasehat.

Saya sendiri tak terlalu sering menulis cerita pendek tapi kebetulan ilham yang sering mengusik saya untuk menulis cerita adalah pesan atau nasehat yang sampai pada diri saya. Baik sengaja atau tidak.

Nah, berangkat dari pesan itu kemudian saya mencoba membuat kerangka cerita. Setelah pesan yang hendak disampaikan sudah saya dapat, saya harus mengalirkan ruh pesan saya pada tiap elemen yang menyusun cerita.

Dulu ketika mengampu matakuliah Menulis Cerita dan Drama, Pak Indra dosen saya, menyampaikan bahwa pesan itu harus dialirkan ke seluruh elemen penyusun cerita. Proporsinya pun dibagi sesuai kebutuhan. Berapa persen kita titipkan pesan cerita kita ke karakter tokohnya, berapa persen kita titipkan ke latar peristiwa, suasana dan konflik cerita. Blablabla..

Sampai pada tahap ini kadang saya harus melamun cukup lama--kalau tidak boleh disebut berpikir--untuk menyusun bagaimana peristiwa yang akan saya gunakan untuk bercerita.

Pada tahap itu saya seringkali terjebak hingga kerangka cerita saya berhenti pada tahap kerangka yang belum selesai.

Kalau sudah begitu saya harus mengistirahatkan diri. Menuliskan kerangka itu agar tak hilang dan mungkin suatu saat saya bisa menyelesaikannya.

Soal teknik menulis, percayalah kita harus selalu mencoba dan mencoba. Menemukan, merapikan lalu mencoba teknik lain.

Untuk urusan itu saya selalu berusaha mencoba. Meski ada sahabat yang berkomentar tentang gaya penulisan saya yang menurutnya sangat personal.  Seolah sedang curhat. Alangkah lebih indah bila tulisan yang saya bikin tidak terjebak pada personalitas saya, sarannya.

Baiklah. Barangkali memang begitu dan saya baik-baik saja. Dalam artian untuk beberapa bentuk tulisan, objektifitas penulis bisa lebih diutamakan dari pada sudut pandang personalnya.

Kemudian sahabat saya itu bertanya apa bercerita dan curhat itu berbeda?

Saya jawab, Beda niat. Saya tidak sedang bercanda dengan jawaban saya. Justru hal itulah yang mula-mula mendasari dan membedakan satu hal dengan hal lain, satu karya dengan karya lain.

Pak Danarto bikin gambar, kemudian disebutnya puisi. Maka jadilah karya itu puisi. Pak Huda di kampung saya juga bikin gambar, di papan tulis. Ia menyebutnya partitur. Mas-mas ISHARI memainkanya menjadi permainan perkusi yang elok.

Begitu juga dalam karya tulis. Sekehendak apa penulisnya. Meski juga ada kaidah lisansia puitika. Soal ini biar Pak Fuad saja yang menjelaskan.

Sahabat saya mengejar, mungkin tak puas dengan jawaban saya. "Dari sisi konten dan istilah?" Tanyanya mengejar.

"Tidak semua cerita apa adanya itu curhat. Kalau cerita punya konsep baik isi maupun pengemasannya. Sedang curhat itu lebih pada luapan perasaan. Itu kalau kamu sepakat." Jawab saya.

Apa tulisan saya ini terlalu personal sehingga tidak bisa dipahami orang yang tak mengenal saya? Atau, tulisan macam apa ini? Semrawut. Tidak selesai!

Entahlah. Sampai saat ini saya masih percaya bahwa menulis itu penting. Paling tidak, dengan menulis bisa mendokumentasikan pemikiran. Dari dokumentasi pemikiran itu bisa dilakukan kajian-kajian baik untuk memahami, memperbaiki maupun memberikan tawaran yang benar-benar berbeda.

Lewat menulis kita juga bisa berbagi pelajaran dan pengalaman. Satu hal yang mengganjal pikiran saya, bahwa seorang yang telah belajar dan mendapatkan suatu pelajaran (ilmu), maka orang itu punya dua tanggung jawab. Pertama menyampaikan dan yang kedua adalah mengamalkan.

Maka menulis setidaknya bisa menjadi salah satu alternatif upaya pelaksanaan tanggungjawab itu.

Selain itu, menulis juga bisa jadi media rekreasi. Bercerita, berbagi kisah dan bertamasya ke ruang-ruang cahaya.

Semoga ini tidak terlalu personal. Oya, cerpen juga "bebas dituliskan dari pintu manapun," kata Pak Fuad.

Selamat menikmati ngopi siang.

# Cemeng Coffee
13 Agustus 2016
01:16 WIB

You Might Also Like

0 comments