Silaturahim ke Ndalem Kasepuhan Nyai Roro Nying

Sungkem (Wedi disabdo)

Alhamdulillah, memasuki suasana syawal minggu ke dua, seharian kemarin aku silaturahim ke beberapa tempat.

Ini kenang-kenangan cerita silaturahim ke Ndalem Kasepuhan Nyai Roro Nying. Nama sebenarnya Kartika Ayu Lestari. Tapi dia biasa memperkenalkan diri dengan nama, "Nying." Lengkap dengan gaya childis abege kesemutan ala dedek gemesh. Tapi itu dulu. Sekarang mungkin lebih mirip Mamud, alias Mama Muda. Haha..

Selain nama "Nying", kami punya sapaan akrab, "Ngek." Itu diambil dari kata_gakusahlah_haha..

Aku mengenalnya sejak dia masih SMA. Saat itu aku sedang kuliah di kisaran semester tiga. Sekarang dia sudah semester sepuluh. Mateng banget! Wkwk..

Nying itu salah seorang sahabat yang baik. Beneran baik, dalam arti tulus berteman. Kian waktu dia makin dewasa. Aku bisa melihatnya karena kami sudah kenal beberapa tahun lamanya. Mulai dia SMA sampai hampir lulus kuliah. Syemangat, ngek! Kamu bisa! Wkwk..

Nying juga seorang vocalis. Suaranya mantav vrooh! Genre lagu yang lebih sering dia nyanyikan pop-jazz. Ayahnya seorang guru seni budaya. Kumisnya tebel. Ups! Maap pak.

Cak Sinchan, Suhu kami di Sanggar Seni dan Budaya, memperkenalkannya saat kami sedang latihan musik untuk sebuah pertunjukan. Malam itu kami langsung mencoba berkolaborasi. Dan, "Kalian gak profesional ya," adalah tamparan perih yang dia hadiahkan dengan riang ke muka kami. Sejak malam itu kami sering bertemu. Latihan bersama, pentas bersama, main bersama dan mereka pacaran. Hahaha. Begitulah.

Nying adalah sahabat. Sahabat yang baik. Maka tidak baik melewatkan silaturahim ke Ndalem Kasepuhannya. Wkwkwk..

Sebutan itu muncul begitu saja ketika aku mengajak Mbak Dilla, teman kami juga, untuk silaturahim ke rumah Nying. Beberapa waktu sebelumnya salah seorang sahabat mengajak untuk ikut serta sowan ke Ndalem Poro Yai di malang. Terinspirasi dari kalimat itulah, akhirnya muncul sebutan Ndalem Kasepuhan Nyai Roro Nying.

Padahal, sesaat sebelumnya aku memanggilnya dengan sebutan "Ustadzah Oke". Itu karena beberapa bulan yang lalu kami sempat foto selfi. Dan ketika aku perhatikan, Nying mirip dengan Ustadzah Oki Setiana Dewi yang lagi hits di hujat netizen. Jadilah aku panggil dia Ustadzah. Tapi sebab itu marahnya na'udzubillah. Gak mau banget dipanggil usadzah. Padahal kalo dilihat dari foto itu, uh, syar'ii banget. Ayu. Lengkap dengan hijab gede dan gamis landung-nya. Wkwkwk..

Karena Nying tidak mau aku panggil ustadzah, ganti aku panggil Neng. Nggondoknya juga masyaallah. Malah dia minta dipanggil Nyai. Dasar dia memang type cewek yang Out of the Box. Maksudku, selalu visioner, futuristik, lompatan pemikirannya ciamik. Tak tertebak. Jangan su'udzon. Out of the Box bukan diartikan dengan badan longgar lo ya. Sedikit sih. Tapi tetep cantik kok ngek! (Plis, jangan acak-acak blog-ku, ngek. Acak-acak aja atiku. Jiah!)

Siang itu aku berangkat kurang lebih pukul 11.30 WIB bersama Mbak Dilla yang sudah janjian dan nyamperin ke kontrakan, Gus Sani, Mahfudz dan Bidin. Sebelum berangkat, aku minta tolong Mbak Dilla lewat pesan singkat untuk mencegah Nying supaya tidak usah repot menyiapkan 6 sampai 10 menu jamuan makan. Cukup 3 menu saja, pesanku.

Sampai di rumahnya, pintu tertutup dengan suasana yang sepi. Untung saja itu terjadi siang hari, jadi suasananya tidak terlampau mencekam, mengingat siapa yang kami kunjungi itu.

Setelah tiga kali ketukan tipis di pintu rumahnya serta-merta muncul suara perempuan yang tak terlihat wujudnya. Masyaallah. Dia masih di balik pintu ternyata.

Pintu dibuka, kemudian terlihatlah seorang gadis berparas cerah dengan senyum yang mekar merekah. Wajahnya seolah bercahaya. Rambutnya tergerai jatuh sepunggung. Kibasan rambutnya membelah udara, menampar kesadaran kami. Sialan, ini bukan adegan ftv. Fak!

Kami disambut dengan ceria. Aku raih tangannya, aku seret ia ke medan laga_sudah-sudah. Ngayalnya besok aja. Gak selesai-selesai nanti ceritanya.

Setelah pintu dibuka, aku jabat tangannya, aku minta maaf padanya. Berurutan teman-teman yang lain juga melakukannya. Sebelum usai mereka berjabat tangan dan bermaaf-maafan, aku potong, aku persilahkan mereka semua untuk masuk ke dalam dan menikmati hidangan yang telah disiapkan. Khas tuan rumah yang menjamu tamunya. Hahaha..

Jadilah agenda pertama sebelum basa-basi kami benar-benar basi adalah sarapan di Ndalem Kasepuhan Nyai Roro Nying. Wkwkwk..

"Gak usah repot-repot, Ngek," Kelakarku sambil sibuk meraih piring dan sendok. "Menune opo ae, Ngek?" Lanjutku sambil mengambil nasi dan clingukan melihat lauk.

Yang tersaji sepiring dadar telur kuning keemasan yang sudah diiris segitiga. Semangkuk besar kuah yang entah isinya apa.

"Westalah, ndang icipono." Sahutnya dengan senyum yang tak kunjung bisa dia hentikan.

"Iku semacam sayur pedes," katanya. Matanya memberi isyarat ke arah semangkuk kuah berwarna coklat. Secoklat menu semur acara kuliner di tivi.

"Waah, mantab!" Sergahku. Kebetulan kami sama-sama suka kuliner pedas.

"Ini buatanmu sendiri?"

"Yaa, mamilah." Jawabnya dengan tawa yang makin kenyal terpental. "Tau sendiri kaan. Tapi ini dadarnya aku yang bikin. Kalau keasinan, anggep aja aku wes kebelet rabi." Tepat pada kalimat itu tawanya muncrat. Tak lagi bisa ia tahan.

Sabar, Ngek. Tuhan menciptakan segala sesuatu itu berpasangan. Siang-malam, gelap-terang, laki-perempuan, baik-buruk. Semua berpasangan. Kecuali jomblo. Wkwkwk..

Sambil menikmati sarapan, kami berbincang kesana-kemari. Tidak ada yang benar-benar penting dan serius kami bahas. Hanya kekonyolan dan kebodohan-kebodohan kecil yang pernah menimpa kami. Tapi justru dari situlah aku merasakan ketulusan sebuah persahabatan. Ah, cukup. Yang peting kami masih bisa sarapan. Eh, maksudku, kami masih bisa saling menjaga. Semoga Ia yang Maha juga senantiasa menjaga kami dalam lingkaran keterjagaannya. Amin.

Usai menandaskan sarapan yang bahagia. Kami menikmati rokok yang selalu, selalu dan selalu setia. Kami bahas rencana untuk mengadiri sidang skripsi adek kami, Firza. Sebab sidangnya bersamaan dengan agenda sowan ke Ndalem Poro Yai di malang yang sedianya dijadwalkan pukul satu siang. Dan keputusannya, tidak mungkin kami melewatkan sidang adek kami yang satu ini. Setelah itu baru kami menyusul untuk ikut agenda sowan.

Keputusan sudah diambil. Tinggal eksekusi. Jam sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB. Tapi Nying tidak bisa keluar rumah tanpa dandan. Minimal bercermin. Fak!

Dia menarik Mbak Dilla ke kamarnya, mengunci pintu dari dalam dan entah apa yang mereka lakukan berdua, mereka menyebutnya b-e-r-d-a-n-d-a-n.

Kami, segepok pemuda harapan bangsa tak bisa tinggal diam. Tidak boleh ada waktu yang terbuang sia-sia. Kami lanjutkan menghisap batang-demi batang kenangan dan meniupkan masa depan yang putih tinggi menerjang awang-awang. (Faaak!)

Sekian masa mereka bergulat dengan keringat dan perih. Jiah. Tanpa kami tahu apa yang lakukan di dalam kamar. Begitu heboh suara yang kami dengar dari luar. Aku ketuk pintu kamarnya dengan maksud agar mereka segera menyudahi perbuatan yang mereka tutup-tutup(i pintu itu).

Tiba-tiba di luar rumah terdengar motor datang. Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar terlihat mendorong kemudian memarkir motornya tepat didepan pintu rumah Nying. Ia berjaket (kulit kalau tidak salah) berhelem. Dan membelakangi kami.

Sontak saja kami matikan roko yang masih panjang terjerang. Asem. Itu pasti Papinya Nying. Ia tidak merokok dan tidak suka orang merokok. Mendadak rungan kami senyap. Suara Nying dan Mbak dilla lenyap.

Sejurus kemudian laki-laki itu berbalik. Laki-laki paruh baya dengan kumis tebal dibawah batang hidungnya. Emh. Bapak e Nying teko. Diikuti mami dibelakngnya.

Kami berdiri. Dengan sikap ramah kami menyambut dan berjabat tangan. Aku cium tangannya. Brurutan mahfudz, Gus Sani dan Bidin juga menjabat tangannya.

Papi-mami masuk ke dalam. Asbak dari Lepek (piring kecil tempat tatakan gelas atau cangkir) kami singkirkan. Sebelum semuanya berakhir dengan penyesalan, Gus Sani mengambil toples jajan. Membuka dan mengambil beberapa isinya.

"Gae sangu." Katanya dengan muka innocent.

Tak mau kalah, aku berikan tas kecilku, "Aku pisan, Gus." Dan isi setoples jajan itu segera berpindah ke dalam tas. Tandas tak bersisa.

Belum cukup. Gus Sani mengambil beberapa gelas minuman yang disuguhkan di meja. Mbak Dilla yang baru saja keluar dari kamar beserta Nying melihat apa yang dilakukan Gus Sani.

"Ini lo besar, Gus," katanya sambil mengulurkan tas yang ia bawa. Dan, minuman gelas di meja itupun tandas.

Tak menunggu lama, kami kemudian berpamitan. Segera keluar. Menggelar rencana yang sudah kami pertimbangkan. Ke kampus, menghadiri sidang adek kami.

Bergerak. Serentak. Melewati aspal jalanan kota malang yang kian panas menjerang. Sebelum aku sampai di kampus, aku hentikan laju. Aku buka hape dan mengirim pesan, dimana Nying dan Mbak Dilla berada?

Tak lama, pesanku dijawab, "Aku OTW Gasek, Mas. Aku gak bawa STNK. Tadi mau masuk UM gak bisa." jawabnya.

"Waduh. Mosok aku neng kamus dewe. Gak ono seng kenal," batinku.

"Yawes aku milu sowan neng Gasek ae Mbak." Pesanku pada Mbak Dilla.

Maap adek, ternyata kita belum bisa lepas dari kekonyolan dan kebodohan kebodohan kecil seperti ini. Kita nikmati saja ya. Selamat sudah sidang skripsi. Semoga semakin sukses menggapai cita-cita.

Dengan jemari yang kemeng ngetik di kypad hape soak.
Subuh dini hari 04.51
#3D/13/07/2016

You Might Also Like

0 comments