Bingkisan Cinta


Beberapa bulan yang lalu, Sahabat Fathul menelpon. Malam itu ia bercerita akan menerbitkan sebuah buku sebagai oleh-oleh, bingkisan kenang-kenangan manis dari pernikahan cintanya.
Kemudian ia menyampaikan maksudnya untuk memberikan ruang bagi saya untuk berbagi cerita dalam buku itu.

"Sek, Kul, kowe ki nek ngenyek mbok ojo nemen-nemen. Nek ngenyek mbok neng WC kono," Mak prul. Luapan emosi sentimentil saya langsung mbrodol. Ambyar.

Dengan perasaan yang begitu mak tratap-tratap mulut saya terus nyerocos,"Karepmu ki piye? Wong aku ki cem-ceman nganti ngecembeng yo ra kenek-kenek kok dadak mbok suguhi ajang nulis kanggo wong arep rabi?!"

Sudah begitu ambyar perasaan saya, Fathul hanya menanggapi Enteng dan sedikit bumbu pisuhan merdeka. Khas tuan congkak yang baru menang adu kedigdayaan.

Ia menyangkal dan menjelaskan bahwa semua itu ia lakukan atas dasar apresiasi dan terimakasih pada sahabat-sahabatnya. Dialekstis-manipulatif.

"Hangkrik!" Batin saya. Ia menyentuh titik terlembek dari sisi sentimentil persahabatan kami. Sampai pada batas mbrebes mili; ia berkenan memberikan ruang apresiasi untuk oret-oretan saya dan menempatkanya bersanding karya dan orang-orang bagus dalam momen sucinya.

Karena nilai Apresiasinya pada sahabat-sahabatnya. Akhirnya dengan dalam saya menghela napas. Mencoba membangun sekali lagi dinding perasaan yang tadi ia bikin jebol. "Ya wes, Kul, ngko tak kirim e. Tapi nek sekirane ora pantes ya rasah mbok lebokne."

Selamat Menembus Hidup Baru, Kul. Semoga SAMAWA dan barokahnya nyiprat ke orang-orang di sekitarmu.

Sebagai teman aku berpesan ketika kamu nanti sudah berumah tangga, tolong jaga puasamu! Maap aku selalu menolak waktu kamu ngajak mokel terus. Sekali lagi, maap.

03 Juli 2016
#PPDM
(

You Might Also Like

0 comments