MENJAGA KESEIMBANGAN PERTUNJUKAN TEATER

Dok. Lensa Teater
Mendapat tepuk tangan meriah dari penonton adalah sebuah semangat tersendiri bagi seorang atau sekelompok penyaji pertunjukan. Apalagi, sepanjang pentas berlangsung diiringi riuh tepuk tangan dan tawa lepas penonton. Hal itulah yang terjadi semalam (14/09/2016). Teater Kutu Politeknik Negeri Malang lewat besutan sutradara Hendy Prasetyo Nugroho berhasil menghibur penonton yang sengaja hadir untuk menikmati pertunjukan tunggal malam itu. Selamat!

Bahkan begitu banyaknya penonton yang memadati arena Graha Teater Poloteknik Negeri Malang sampai-sampai panitia kehabisan tiket. Di dalam arena pertunjukan, penonton sudah memadati tempat duduk yang tersedia. Karpet penonton penuh membentuk setengah lingkaran menghadapi panggung. Tempat duduk bertingkat seperti tempat duduk dalam gambar-gambar tempat duduk penonton pertunjukan teater zaman yunani dulu juga sudah penuh. Kondisi seperti itu pasti membahagiakan bagi penyelenggara pertunjukan.

Di atas panggung, sebuah Pos Kamling dengan tiang dan pagar dari material bambu serta atap dari anyaman daun tebu dan beberapa tanaman hijau di beberapa sisi membawa imajinasi penonton pada gambaran sebuah kampung.

Meski hanya satu paket properti itu, Pos Kamling dengan tanaman di beberapa sisinya, namun kesan sebuah kampung begitu kuat. Selain itu, tak ada lagi properti yang mengisi panggung pertunjukan malam itu.

Pertunjukan dibuka oleh adegan dua tokoh, Mat Keranjang dan Arjo Anggur yang begitu memuja masakan Jeng Menul, gadis manis penjual bubur. Saking tergila-gilanya mereka menganggap masakan istri mereka tidak enak dan tidak menarik. Parahnya, para suami itu banyak melupakan tugas dan tanggungjawab mereka.

Kegilaan mereka niscaya menerbitkan kecemburuan di hati para istri, Mbok Tomblok dan Yu Giyat. Bahwa Menul tak hanya menjual bubur, lebih dari itu, kepada para lelaki dan suami, gadis manis itu mengumbar rayu.

Kecemburuan itu melahirkan kebencian dan niat jahat para istri untuk melabrak dan menyeret si gadis manis penjual bubur asoy itu.

Bagai api yang disiram minyak, kecemburuan dan kebencian para istri makin membara ketika bertemu dengan Mas Romo, seorang penjual bubur yang sukses. Tapi betapapun suksesnya, Mas Romo tetap melihat Menul sebagai kerikil tajam yang harus disingkirkan dari jalan kesuksesannya. Ia tak mau ada pesaing.

Para istri yang mengeluhkan kelakuan suami mereka dan penjual bubur itu disambut dengan gembira oleh Mas Romo. Kebencian para istri itu dibakar oleh Mas Romo agar para istri itu menyeret Menul ke hadapan aparat dan mengadilinya karena telah menggoyahkan stabilitas nasional.

Mas Romo sendiri yang tengah dilahap gairah tak sadar jika provokasinya kelewat panas. Para istri curiga dengan gelagat Mas Romo. Gerangan apakah yang membuatnya begitu bersemangat mendukung aksi para istri.

Kepada sesepuh kampung akhirnya para istri itu mengadu. Dengan kebijaksanaan sesepuh, ia meredam api kecemburuan para istri. Kemudian mengajak mereka introspeksi diri dan belajar menjadi istri yang baik.

Api yang berkobar dapat dipadamkan. Persoalan yang mengganggu bisa diselesaikan.

Tapi kisah tak semulus itu. Sepanjang cerita itu dilakonkan tak habis-habisnya adegan kekerasan dihadirkan. Mulai dari kekerasan verbal hingga kekerasan fisik yang membuat penonton selalu bergidik.

Adegan-adegan semacam inilah yang hemat saya mengurangi keindahan pertunjukan yang menggarap naskah Jeng Menul karya Puthut Buchori.

Sebab apa? Aksi menampar, menjambak dan menjatuhkan diri yang dilakukan oleh para pemain terlihat begitu lugas dan kurang terencana--kalau tidak boleh dibilang tak terkendali. Bagi beberapa penonton mungkin menangkap adegan itu menjadi begitu natural. Tapi bagi penonton yang lain menganggapnya menjadi vulgar.

Peristiwa itu mengingatkan saya pada wacana realitas panggung. Bahwa panggung adalah dunia kreatif. Maka untuk menghadirkan sebuah kenyataan yang terjadi dalam hidup ke atas panggung tidak lantas menghadirkannya dengan apa adanya. Segala yang dihadirkan ke atas panggung setidaknya melewati sentuhan-sentuhan dan olahan-olahan artistik seorang seniman. Baik itu secara fisik, berkaitan dengan properti, peralatan pentas maupun peristiwa dan pengadeganan. Bukankah hal itu yang secara tegas membedakan antara kenyataan dalam kehidupan keseharian dengan kenyataan dunia panggung?

Maka sebrutal dan sekeras apapun konflik fisik yang terjadi, ia tidak dihadirkan dengan sangat lugas dan vulgar. Justru tantangannya adalah bagaimana mengolah peristiwa kekerasan itu menjadi adegan yang tidak vulgar namun tetap mampu menyampaikan rasa-konflik sebuah peristiwa. Disitu kita bisa melihat nilai lebihnya.

Untuk itulah kekuatan seorang pemain harus terus diasah. Baik itu kekuatan fisik, emosi maupun mental. Sebab ketegangan, puncak emosi dan yang terjadi di atas panggung bisa melenakan seorang pemain terhadap kesadaran dirinya. Pemain yang tidak mampu menguasai (kekuatan) kesadaran dirinya akan terbawa oleh suasana di atas panggung. Kalau tidak keliru, hal itulah yang kiranya menjadi salah satu dasar ketika Stanilavsky melahirkan konsep satu persen kesadaran aktor di atas panggung.

Jika tak salah tafsir, selain persoalan di atas sebenarnya persoalan yang lebih awal dan mendasar mengenai penokohan sepertinya juga luput dari kejelian sang sutradara. Dalam pertunjukan itu, kisah yang hendak ditampilkan adalah sosok Menul, gadis berusia 25 tahun yang berjualan bubur. Karena kepiawaiannya mencipta bubur asoy, banyak orang yang menyukai. Ditambah kegadisannya yang menjelang matang.

Namun dalam pertunjukan malam itu, adegan yang lebih kuat menampilkan sosok Menul yang begitu menggoda. Dan memang aksinya begitu menggoga.

Jadi kesan yang hadir dalam pertunjukan malam itu bukan Menul yang digoga oleh lelaki dan para suami, melainkan sosok Menul pun yang sengaja menggoda dan menyediakan diri untuk digoda. Karena itu ia menjadi biang rusuh dalam keluarga di kampung itu yang pada akhirnya memicu aksi dari para istri.

Dalam persoalan pemeranan dan penyutradaraan rasanya teknik yang digunakan oleh para pemain kurang lebih seragam. Dalam hal teknis pemeranan misalnya. Hampir semua pemain terlihat seperti berteriak untuk menghasilkan suara yang keras. Hampir jarang pemain berbisik, memenggal atau mempermainkan nada atau teknik lain dalam dialog mereka. Selain itu, gerak(an) yang dilakukan pun hampir sama; kaki mengambil sikap kuda-kuda menyamping, punggung agak dicondongkan kedepan dan tangan berayun membelah udara. Penempatan bloking dan grouping pemain juga kurang tersentuh secara artistik.

Tanpa mengurangi kebahagiaan para penyaji yang telah berhasil menghibur bahkan mengocok perut para penonton, perlu diperhatikan lagi keseimbangan antar elemen-elemen dalam pertunjukan teater agar setidaknya dapat memperkecil peluang ketimpangan pertunjukan. Apalagi berkaitan dengan pesan sebuah pertunjukan. Selain menghibur, pertunjukan teater seyogyanya bisa atau setidaknya berkesempatan untuk memperkaya batin penontonnya.

Sekali lagi selamat teman-teman Teater Kutu!

Malang, 15 September 2016

*) Dipublikasikan pertamakali di lensateater.blogspot.com

You Might Also Like

0 comments