Senja; Perjalanan Anno mencari yang Sejati

Gara-gara Ano. Ya, gara-gara dia sekarang aku harus menulis lagi. Mulanya ia bertanya tentang buku puisi yang aku buat. Kemudian ia bertanya ini-itu tentang buku. Dan ya, bisa kalian tebak, ia ingin membuat buku.

Ano bercerita bahwa ia ingin menulis tentang senja. Sampai disitu, ia berhenti dan menggaruk kepalanya yang digumuli rambut gondrong. Mukanya melengeh dengan senyum manis yang leleh—Jediaaarr..!!! aku bukan homo!! Tapi aku harus berkata jujur bahwa ia memang punya muka yang manis. Ciyee Anoo. Proporsinya pas. Yah, begitulah Tuhan. Selalu saja bisa pas menempatkan segala sesuatu. Untuk menjadi komposisi yang pas, proporsional, bentuk itu tidak harus simetris. Banyak hal asimetris yang justru ketika kita lihat, ia begitu indah dan menarik.

Kembali ke cerita Ano. Sampai pada senja. Ia ingin menulis tentang senja. Tapi ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Aku bertanya balik padanya, apa yang membuatnya ingin bercerita tentang senja? Ternyata ia punya pengalaman yang panjang dan begitu berkesan mengenai senja. Tapi itu tak cukup baginya untuk mengetahui apa yang akan ia tulis tentang senja. Sampai kemudian ia bercerita bahwa ia menamakan diri sebagai senja di account twitternya. Dari twitter itu ia berkenalan dengan banyak orang yang juga mengagumi senja. Tapi menurutnya mereka tak mencintai senja dengan tulus. Mereka bahkan tak mengerti apa itu senja. Dari situ aku melihat Ano punya perspektif lain tentang senja. Nah, bagiku itulah modal ia bercerita, bertutur dan menulis tentang senja.

Pada umumnya, kita akan mengidentifikasi senja sebagai waktu sore hari ketika matahari telah turun sepenggalah dan bertengger di langit barat. Mencipta rona orannye hangat yang semburat.

Suatu kali Ano bertanya kepada beberapa orang tentang senja. Ano menyimpulka dari jawaban beberapa orang yang ia tanyai, banyak penafsiran tentang senja. Bahkan ia menemukan banyak persepsi tentang apa sebenarnya 'senja'. Dan semua persepsi tentang senja yang diungkapkan beberapa orang itu sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini menjadi persepsi Ano—oh, Ano, sebenarnya kamu makan nasi atau apa sih?

Ano merasa sedikit resah dengan persepsi yang hidup dalam benak orang-orang yang telah ia tanyai. Seolah-olah persepsinya tentang Senja adalah satu-satunya persepsi yang mahabenar.

Ah, kalau bicara tentang manusia, tidak ada kata 'maha'. Kata 'maha' hanya layak bersanding dengan nama-Nya yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Lalu bagaimana dengan kata Mahasiswa? Tanyakan pada senja yang semburat merona..

Sekarang, barangkali kita bisa menunggu hasil perjalanan panjang Ano dalam pencariannya tentang Senja yang sejati.

Semoga segera terbit bukunya, dan kita bisa bertamasya ke taman senja yang merona.

Malang, 27 Oktober 2015


You Might Also Like

0 comments